Bagus nih Juni 23, 2007
Posted by fisika02 in berbagi ilmu.add a comment
“Alhamdulillah….saya mendapatkan cara simple tapi jitu hasil browsing di internet. Awalnya agak kaget juga pass buka flash dis, foldenya gak nampak. berikut tips dan trik untuk menampilkan folder yang di Hidden oleh Virus :
1. Buka command prompt (DOS)
bisa via Start –>Run ketik cmd
atau pilih menu Start –> All Program –> Accessories –> command prompt
2. Pindah folder ke drive Flash disk
C:\Documents and Setting\user> e: (nama drive flash disk)
3. Lakukan pengecekan file di flash disk
E:\> dir /a
4. Gunakan syntax atau perintah attrib, untuk menampilkan file yang di hidden oleh virus
E\> attrib -S -H /S /D *
keterangan :
-S : Untuk menghilangkan attrib tipe sistem file
-H : Untuk menghilangkan attrib tipe hidden file
/S : Untuk memproses seluruh folder dan sub folder
/D : Memproses folder
* : Semua file/folder yang terdapat di USB Flashdisk
Setelah file bisa ditampilkan, jangan lupa untuk menghapus semua file application virus yang berekstensi .exe
demikian tip and trik yang saya peroleh semoga bermanfaat bagi kita semua” Kang Nino site
Seputar kontes robot Juni 23, 2007
Posted by fisika02 in Tak Berkategori.add a comment
Tim robotik FISIKA UB “Q_RO” yang ikut ambil bagian pada divisi expert swarm (divisi terbaru, tersulit dan menantang) dibawah naungan Jurusan FISIKA (dalam hal ini PHYROC) berangkat bersama-sama dengan tim dari ElektroUB dari kampus tercinta sekitar pukul 14.25. Namun beberapa teman memakai motor untuk sampai di SBY.
Pertama kali kita melihat tim dari universitas lain cukup kaget. Ini karena mulai dari penampilan robot, piranti pendukung robot (seperti jumlah dan mutu sensor, dimensi robot, roda, perlengkapan pendukung) hingga jumlah supporter jauh sekali dengan kita. Maksudnya kita yang tertinggal jauh. Tapi dengan semangat pengetahuan kita pada komunikasi kedua robot (yang menjadi inti divisi expert swarm) membuat kita tetap berani angkat kepala di depan mereka.
Pada lomba tersebut ada 3 trial yang harus dilalui. Untuk trial pertama kita kebingungan dengan kondisi robot yang sulit diatur PWM-nya sehingga pergerakan robot aneh dan janggal. Namun beruntung kedua robot dapat berkomunikasi (ini merupakan nilai lebih yang kita miliki dibanding tim lain) dengan baik. Belakangan diketahui ada ketidak sesuaian roda. Pada trial kedua, kita mengalami kendala pada sensor dan motor yang kurang stabil. Namun, bagaimanapun kita tetap unggul pada komunikasi kedua robot yang dapat berjalan dengan aman. Sayangnya, motor yang kurang stabil akhirnya membuat jebol lilitan pada rotor. Sehingga diputuskan untuk segera mencari pengganti gearbox dan motor yang lebih stabil. Setelah dilakuakn penggantian hasilnya lumayan bagus. Pada trial ketiga, awlnya berjalan lancar hingga akhirnya karena grogi,panik dan kebingungan yang mendalam ada kecelakaan kecil yang membuat satu robot tidak berjalan sebagaimana mestinya dan satu robot lagi nyangkut ketika akan memadamkan api.
Sebuah awal yang indah dan mudah-mudahan tidak menjadi yang terakhir. Mungkin mengecewakan, tapi paling tidak ada pengalaman berharga khususnya untuk FISIKA UB sehingga akan lebih baik lagi untuk tahun depan.
Kubernyanyi….
walau hati bersedih…..
Kutertawa…..
Walau hati kecewa……
(RE:KONTES ROBOT)Sound Activation Experiment Juni 23, 2007
Posted by fisika02 in Cerita.add a comment
Pagi hari yang indah dengan cuaca mulai panas di SBY dimulai dengan sapaan dari salah seorag dosen..”ei, gimana? siap ga hari ini?”.”Siap,Pak. semalam kita experimen terus”
Seorang dosen lagi nyeletuk,”kalian semalam ngapain teriak-teriak ga karuan, mulai kata **** welek sampek pisuhan segala?” tanya beliau sambil tersenyum.
Spontan teman kita yang ditanya sama kedua dosen jadi agak tersipu.
“semalam kita nguji sound activation,Pak. Kalo tim lain pake alat, kita pinginnya pake suara kita sendiri,Pak”
RE:KONTES ROBOT Juni 21, 2007
Posted by fisika02 in Tak Berkategori.add a comment
Pada KRCI 2007 Q-RO bersaudara belum bisa tampil seprima ketika waktu latihan harian di kampus, banyak hal tak terduga terjadi disana di samping persiapan yang masih kurang seperti kerusakan gear box dan sistem penguat yang mendadak (maklumlah baru pertama) , walau begitu Q-RO masih memproleh nilai tertinggi kedua dari 3 peserta(he..he..), tapi kita banyak belajar dari semuanya termasuk nyuri2 teknologi yang dipakai pihak lawan dan tahun depan kita pasti bisa tampil lebih bagus.
Pihak MIPA yang hadir pada KRCI 2007 antara lain P.DJ ,P.Nadhir, P.ADI, dan P. warsito. Ada sedikit kejadian lucu, karena yang bisa masuk arena hanya tim inti dan pembimbing utama, ada banyak cara yang dilakukan salah satu dosen FISIKA demi bisa masuk arena untuk melihat anak2 didiknya berlaga, mulai dari ngaku2 sebagai kajur sampai melompat pager pembatas (padahal pengamananya amat kuat), alhasil Pak dosenpun bisa masuk arena untuk melihat pertandingan dari dekat. Terima kasih pak
PhyRoC
seharusnya..?!? Juni 21, 2007
Posted by fisika02 in Tak Berkategori.add a comment
Bukan 2007, Seharusnya Tahun 2012
13 04 2007
Pikiran Rakyat, Sabtu, 30 Desember 2006
Bukan 2007, Seharusnya Tahun 2012
Oleh IRFAN ANSHORY
DENGAN tidak terasa kita memasuki tahun 2007 Masehi, meskipun tidaklah salah jika ada yang mengatakan bahwa sekarang adalah tahun 1385 (Persia), 1427 (Hijriah), 1928 (Saka), 1939 (Jawa), 1943 (Sunda), 2550 (Buddha), 2557 (Imlek), 2667 (Jepang), atau 5767 (Yahudi).
Bulan mengelilingi bumi dalam 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik atau 29,5306 hari (satu bulan). Jika dikalikan dua belas, hasilnya 354 hari 8 jam 48 menit 34 detik atau 354,3672 hari, waktu satu tahun bagi kalender berdasarkan bulan (lunar atau qamariyah). Bagi kalender berdasarkan matahari (solar atau syamsiyah), waktu satu tahunnya adalah lamanya bumi mengelilingi matahari, yaitu 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik atau 365,2422 hari. Oleh karena jumlah hari dalam setahun tidak bulat, harus ada tahun-tahun tertentu yang dibuat sehari lebih panjang (tahun kabisat, leap year). Kalender lunar memiliki tahun biasa 354 hari dan tahun kabisat 355 hari, sedangkan bagi kalender solar 365 dan 366 hari.
Kalender Romawi
Kalender Masehi pada hakikatnya adalah kalender Romawi yang bermula sejak tujuh setengah abad sebelum Nabi Isa al-Masih a.s. lahir. Ketika Romulus dan Remus mendirikan kota Roma tahun 753 SM menurut hitungan sekarang, mereka membuat kalender lunar. Awal tahun adalah awal musim semi, dan tahun pembangunan Roma ditetapkan sebagai tahun 1 AUC (ab urbi condita = “sejak kota dibangun”).
Nama-nama bulan adalah Martius (Mars, dewa perang), Aprilis (Aprilia, dewi cinta), Maius (Maya, dewi kesuburan), Junis (Juno, istri dewa Jupiter), Quintilis (bulan ke-5), Sextilis (bulan ke-6), September (bulan ke-7), October (bulan ke-8), November (bulan ke-9), December (bulan ke-10), Januari (Janus, dewa penjaga gerbang langit), dan Februari (Februalia, dewi kesucian). Setiap bulan 30 hari, kecuali Februari sebagai bulan terakhir hanya 24 atau 25 hari, sehingga jumlah setahun 354 atau 355 hari. Agar tahun baru tanggal 1 Martius tetap jatuh pada awal musim semi, setiap tiga tahun disisipkan bulan ke-13, Mercedonius, setelah Februari.
Pada tahun 709 AUC (tahun 46 SM menurut kita sekarang), kalender lunar Romawi berubah menjadi kalender solar yang ditiru dari bangsa Mesir. Kehidupan masyarakat Mesir sangat tergantung pada pasang dan surut Sungai Nil, sehingga mereka sejak tahun 4236 SM menggunakan kalender solar untuk menandai musim banjir, musim tanam dan musim panen. Penguasa Romawi saat itu, Julius Caesar, bobogohan dengan Cleopatra Ratu Mesir. Untuk mengambil hati kekasihnya, Julius Caesar mengubah kalendernya menjadi kalender solar. Aneh tapi nyata: kalender berubah gara-gara cinta!!!
Dengan bantuan Sosigenes, seorang ahli astronomi Yunani di Iskandariah, awal tahun Romawi serta jumlah hari dalam setiap bulan disesuaikan dengan kalender Mesir. Tahun baru digeser dari Martius (Maret) menjadi Januari. Akibatnya, September yang artinya “bulan ke-7″ (septem = tujuh) menjadi bulan ke-9. Nama bulan Quintilis diganti bulan Julius, diambil dari namanya sendiri. Banyaknya hari dalam sebulan: Januari 31, Februari 28 atau 29, Martius 31, Aprilis 30, Maius 31, Junis 30, Julius 31, Sextilis 31, September 30, October 31, November 30, dan December 31. Tahun 709 AUC itu ditetapkan oleh Julius Caesar sebagai tahun 1 Julian.
Kaisar Romawi berikutnya, Octavianus Augustus, ingin juga mengabadikan namanya dalam kalender. Namanya, Augustus, dipakai mengganti nama bulan Sextilis. Untunglah kaisar-kaisar sesudahnya tidak memiliki keinginan serupa, sehingga nama-nama bulan tidak lagi mengalami perubahan.
Tahun Masehi
Setelah bangsa Romawi memeluk agama Nasrani, kalender Julian tetap digunakan, bahkan makin meluas pemakaiannya di kalangan bangsa-bangsa Eropa. Pada tahun 572 Julian, seorang pejabat tinggi kepausan di Roma, Dionisius Exiguus, menetapkan perhitungan tahun Anno Domini (”Tahun Tuhan”). Berdasarkan perkiraan Dionisius bahwa Nabi Isa al-Masih a.s. lahir tahun 47 Julian, maka tahun 47 Julian ditetapkan sebagai tahun 1 Anno Domini (AD), dan angka tahun 572 Julian diganti menjadi 526 AD. Sejak tahun 526 mulailah berlaku hitungan tahun Anno Domini (AD) yang berlangsung sampai sekarang. Kita di Indonesia menyebutnya tahun Masehi (M).
Kalender Julian memakai patokan 365,25 hari setahun dengan kabisat empat tahun sekali, yaitu yang angka tahunnya habis dibagi empat. Patokan ini berlebih 0,0078 hari dari yang seharusnya. Akibatnya terjadi kesalahan satu hari dalam setiap 128 tahun. Pada tahun 1582 kesalahan kalender mencapai sepuluh hari. Awal musim semi (vernal equinox) jatuh pada 11 Maret, padahal seharusnya 21 Maret.
Maka pada tahun 1582 Paus Gregorius XIII membuat keputusan yang berjudul Calendarium Gregorianum. Angka tanggal harus dilompatkan sepuluh. Hari Kamis tanggal 4 Oktober 1582 harus diikuti oleh Jumat 15 Oktober 1582. Untuk memperkecil kesalahan pada masa mendatang, tiga dari empat sentesimal (tahun peralihan abad) yang seharusnya kabisat dibuat sebagai tahun biasa. Jadi, tahun 1600 kabisat; 1700, 1800 dan 1900 tahun biasa; 2000 kabisat lagi, dan seterusnya. Sistem Gregorian ini hanya berlebih 0,0003 hari per tahun. Untuk mencapai kesalahan satu hari diperlukan waktu 3333 tahun. Jadi, kalender Gregorian baru perlu dikoreksi nanti pada awal abad ke-50!
Pada mulanya yang mengikuti keputusan Paus untuk mengubah kalender hanyalah negara-negara Eropa yang mayoritas Katolik. Hal ini pun menimbulkan kegemparan di kalangan masyarakat awam. Banyak orang yang ketakutan kalau-kalau usianya berkurang sepuluh hari, dan para pekerja menuntut upah bagi sepuluh hari yang dianggap hilang. Adapun negara-negara Protestan, Anglikan dan Ortodoks tetap memakai kalender Julian. Mereka mencurigai keputusan Paus itu hanya taktik untuk mengembalikan otoritas Roma di bidang agama.
Menjelang akhir abad ke-17, tahun 1698, seorang ilmuwan Jerman yang berwibawa saat itu, Prof.Dr. Erhard Weigel, berkirim surat kepada raja-raja Eropa yang beragama Protestan agar menerima kalender Gregorian. Weigel menegaskan bahwa pemakaian kalender itu tidaklah berarti tunduk kepada Paus. Ini masalah ketepatan peredaran benda langit, kata Weigel, bukan masalah agama.
Maka pada awal abad ke-18 negara-negara Protestan menerima kalender Gregorian. Inggris negara Anglikan baru mengikuti tahun 1752, dengan menyatakan bahwa tanggal 2 September 1752 langsung disusul oleh 14 September 1752. Hal ini juga berlaku untuk seluruh jajahan Inggris, termasuk Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada sekarang) yang saat itu belum merdeka. Akibatnya, George Washington, yang nantinya menjadi presiden pertama Amerika Serikat, terpaksa mengubah tanggal lahirnya dari 11 Februari 1732 menjadi 22 Februari 1732.
Negara-negara Eropa Timur yang menganut Kristen Ortodoks baru menerima kalender Gregorian sesudah Perang Dunia Kesatu berakhir. Rusia memberlakukannya tahun 1918 dengan menyatakan bahwa 31 Januari langsung disusul 13 Februari. Hari penghapusan kekaisaran Rusia yang berlangsung tanggal 7 November 1917 sampai sekarang tetap disebut “Revolusi Oktober”, sebab hari itu di Rusia masih berlaku kalender Julian tanggal 25 Oktober. Negara Eropa terakhir yang menerima kalender Gregorian adalah Yunani tahun 1923.
Akan tetapi kalender Julian tetap digunakan oleh Gereja Ortodoks khusus untuk menentukan Hari Natal. Sampai sekarang mereka merayakan Natal tanggal 7 Januari (25 Desember menurut kalender Julian), dua minggu lebih lambat daripada umat Kristen lainnya.
Di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin, penyebaran kalender Gregorian dilakukan oleh negara-negara Eropa yang menjajahnya. Di Indonesia sampai awal abad ke-20 kalender Hijriah masih dipakai oleh raja-raja Nusantara. Bahkan Raja Karangasem yang beragama Hindu, Ratu Agung Ngurah, dalam surat-suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang beragama Nasrani, Otto van Rees, pada tahun 1894 masih menggunakan tarikh 1313 Hijriah.
Kalender Gregorian secara resmi dipakai di seluruh Indonesia mulai tahun 1910 dengan berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap, hukum yang menyeragamkan seluruh rakyat Hindia Belanda. Maka tercapailah niat Octavianus Augustus yang ingin namanya abadi. Nama Kaisar Romawi ini senantiasa diucapkan oleh jutaan orang Indonesia setiap tahun tatkala merayakan hari proklamasi kemerdekaan.
Tahun 2007 ?
Dionisius Exiguus pada abad ke-6 membuat perhitungan tahun Masehi (Anno Domini) berdasarkan data Injil Lukas bahwa Nabi Isa al-Masih a.s. memulai tugas kerasulan pada tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Tiberius. Dia bertakhta dari tahun 60 sampai 83 Julian (14-37 Masehi), sehingga kejadian yang diceritakan Lukas itu berlangsung tahun 75 Julian (29 Masehi). Oleh karena Lukas pun ternyata main tebak dengan mengatakan usia Nabi Isa al-Masih saat itu “kira-kira 30 tahun” (quasi annorum riginta), maka Dionisius memperkirakan utusan Allah yang mulia itu lahir pada tahun 47 Julian, yang ditetapkannya sebagai Tahun 1 Masehi.
Ternyata perkiraan Dionisius itu tidak tepat! Baik Injil Lukas maupun Injil Matius mencatat kelahiran Isa al-Masih pada masa Raja Herodes di Palestina, yang berarti antara tahun 10 dan 43 Julian (37 SM sampai 4 SM). Lukas juga mengatakan bahwa Isa al-Masih lahir ketika Gubernur Suriah Quirinius, atas perintah Kaisar Augustus (bertahta 27 SM sampai 14 Masehi), mengadakan sensus penduduk di Palestina. Sensus ini tentu berlangsung sesudah pengangkatan Quirinius tahun 41 Julian (6 SM). Dengan demikian putra suci Siti Maryam r.a. itu sangat mungkin lahir pada tahun 42 Julian (5 SM).
asal usul..!!! Juni 21, 2007
Posted by fisika02 in Tak Berkategori.add a comment
Asal Usul Nama Indonesia
30 03 2007
PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.
Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).
Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung, Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.
Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.
Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.
Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:
… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!
Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.
Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Makna politis
Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”
Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch-Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.
Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.
Sumber: milis kantor
Kontes ROBOT Juni 13, 2007
Posted by fisika02 in Fisika 2002.add a comment
Buat temen2 yg kemaren ikut pergi ke surabaya, bagi2 donk critanya.
kita2 kn juga pengen tau disana kyk gmn.
ok deh…tak tunggu critanya ya….
peace..!!
Re:Re:Sendiri itu Indah Juni 4, 2007
Posted by fisika02 in diskusi.1 comment so far
Ikut gabung juga nih….
q setuju dengan posting Re: Sendiri itu Indah, (maaf g’pake ada yang cemburu ya…..ntar dikira memelintir kata….hehehehe…).
Yup, sendiri itu g’harus diartikan sebagai “Jomblo”, tergantung dari sudut mana kita memandang aja. G’ada temennya kan bisa juga dikatakan sendiri. q setuju klo sendiri itu indah, karena dari kesendirian kita sering muncul pemikiran2 kreatif yang mungkin itu aneh bahkan agak gendheng, tapi kita bisa membawa pikiran kita sebebas yang kita mau, tanpa ada perasaan terkekang gitu loh….Tapi bukan berarti tidak sendiri itu tidak enak lo….balik lagi semua tergantung dari sudut mana kita memandang…
Walaupun dah punya pasangan, suatu saat kita pasti membutuhkan waktu khusus untuk pribadi kita, waktu khusus untuk kita sendiri. Nikmati indahnya kesendirian…….
Q mau nanya nih…Sebenarnya yang posting
Sendiri (itu) Indah, RE:SENDIRI ITU INDAH (Klarifikasi), dan RE: Sendiri Itu Indah (ada yang cemburu nii…) itu orangnya sama g’ sih??
Karena pada postingan RE:SENDIRI ITU INDAH (Klarifikasi) di tuliskan
“Meski jomblo ia tidak membantah jika dia pernah jatuh cinta, Tapi saat kami konfirmasi langsung di kampusnya beliau mengaku bahwa dia sangat menikmati masa-masa jomblonya, dia membenarkan bahwa “sendiri itu indah“.
Beliau sempat berkata “Kami ini adalah jomblo-jomblo terhormat, bukanya nggak laku, hanya saja belum ada cewek yang beruntung yang mendapatkan kami“ “
dari tulisan itu tersurat klo sendiri yang dimaksud adalah “jomblo”.
Tapi dari postingan RE: Sendiri Itu Indah (ada yang cemburu nii…) di tuliskan
“Sendiri bukan berarti jomblo. Kalau sendiri itu identik dengan jomblo, berarti ada istilah baru yang perlu dibudayakan. Contohnya tentang pengurusan SIM yaitu SIM kolektif (bersama-sama) dengan SIM jomblo (sendiri). “
Jika penulisnya(yang posting) itu sama, kenapa penulis tidak konsisten terhadap arti kata “sendiri”???
Jadi arti kata “sendiri” yang digunakan penulis memang ambigu, dan perlu penjelasan tentang arti kata “sendiri” yang dimaksudkan oleh penulis tersebut.
Tidak salah seandainya ada orang yang salah persepsi dengan arti kata “sendiri”.
Sebagai seorang scientist, berdebatlah secara ilmiah…….
Chayo Fisika 2002…….
i miss u my friends….