jump to navigation

Tuhan Disaingi Manusia September 8, 2007

Posted by fisika02 in Tak Berkategori.
trackback

Kegelapan sosial pada hakekatnya,bersifat horisontal. Ada juga yang bertikal, yakni kegelapan spiritual, kegelapan teologis. Terlanjur bikin setting negara ber-Tuhan, tapi wacana tentang Tuhan dan ajarannya hanya dispekulasikan. Tuhan bahkan dikarang atau diciptakan sendiri. Tuhan harus ‘ngikut’ macam-macam pendapat manusia tentang diri-Nya. Tuhan sendiri tidak pernah ditanyai. Seakan-akan manusia menemukan Tuhan melalui riset akademis dan investigasi ilmiah. Seakan-akan manusia sanggup mengenali Tuhan, malaikat, sorga, neraka, konsep dosa dan pahala, setan, jin, malaikat dlsb. melalui upaya prestatif manusia sendiri.
Di ujung seluruh kenyataan itu, benturan yang dialami manusia adalah soal ‘kebahagiaan yang sejati’. ‘Persyaratan’ untuk bahagia tidak secara mendasar dipenuhi. Tidak berlangsung pendidikan sejarah yang mendorong dan menolong manusia untuk menemukan dirinya dalam kootdinat kenyataan hidup di mana ia terletak.
Manusia juga menjadi tidak memiliki peluang untuk memahami dan mengadaptasikan dirinya pada ‘syariat sosial’, sehingga ia temukan pula pola ‘manajemen’ dirinya secara baik.
Misalnya kalau untuk mencapai kebahagiaan, umumnya orang mengandalkan tiga-ta: harta, tahta, dan wanita – masalahnya adalah ada perbedaan serius antara tolok ukur horisontal mengenai tiga hal itu dengan tolok ukur vertikal. Apa yang dalam syariat horisontal disebut menguntungkan, menurut tolok ukur vertikal merugikan. Melakukan shalat itu tidak produktif, wisting time dan ngoyoworo, menurut mata pandang horisontal – kecuali kalau shalat merupakan syarat agar tender kita menangkan.
Mendapatkan uang banyak dan memasukkannya ke kantong, menurut tolok ukur horisontal ada keuntungan, yang berakibat kegembiraan. Tapi mengeluarkan uang dari kantong tanpa disertai janji laba horisontal apa-apa, menurut syariat vertikal adalah sebuah keberuntungan, kelegaan dan kegembiraan.
Itu sekedar contoh sederhana. Manusia tampaknya cenderung mempersaingkan dirinya dengan Tuhan dalam konsep, wacana, dan manifestasi tentang kebahagiaan. Dan Tuhan tampaknya cool-cool saja membiarkan diri-Nya disaingi. Manusia menempuh, mengejar, merampas, segala sesuatu yang ia anggap sebagai ‘onderdil’ kebahagiaan, padahal Tuhan berkata sebaliknya. Kelak manusia terjebak dan frustrasi sendiri di masa tuanya, kemudian membungkuk-bungkuk minta ampun, dan Tuhan menyediakan lima sifat pengampun pula.
Hanya Abu Nawas yang sanggup ‘mengalahkan’ Tuhan soal harta dan kebahagiaan. Ia teriak-teriak bahwa ia lebih kaya dari Tuhan. Setelah ditangkap polisi ia berargumentasi: ‘Menurut Tuhan harta yang termahal adalah anak yang saleh. Dan saya punya 12 anak yang saleh salehah, sedangkan Tuhan tak punya satupun”.

Disarikan dari “Kitab Ketentraman”

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: